Recent Articles

Wednesday, November 17, 2010

Kelurahan Demaan Kecamatan Jepara

Wednesday, November 17, 2010 - by Blogger · - 0 Comments

Kelurahan Demaan Jepara
Kelurahan Demaan merupakan salah satu kelurahan yang terletak di Kecamatan Jepara Kabupaten Jepara Provinsi Jawa Tengah. Kelurahan yang terletak di salah satu pusat Kota Jepara ini merupakan kawasan pesisir yang berada di wilayah perkotaan, dengan berbagai macam ciri-ciri atau karakteristik kota yang mendominasi. Kelurahan Demaan mempunyai luas 80,8 Ha atau 2,42 % dari luas Kecamatan Jepara dan 0,06 % dari luas Kabupaten Jepara. Adapun batas-batas administratif Kelurahan ini adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara       :   Kelurahan Kauman
Sebelah Timur      :   Kelurahan Potroyudan
Sebelah Selatan    :   Sungai Gandu
Sebelah Barat       :   Laut Jawa

Kelurahan yang dekat dengan kawasan wisata Pantai Kartini ini terbagi dalam 7 RW dan 22 RT dengan luas keseluruhan 80,8 Ha.  Wilayah Kelurahan Demaan tergolong dalam iklim tropis, yakni iklim tipe D (Schenit Ferguson), dengan ciri-ciri bulan kering selama sembilan bulan dan tiga bulan basah yang dipengaruhi oleh iklim Marine. Sedangkan temperatur udara bervariasi antara 24oC - 35oC, dengan kelembaban nisbi antara 60 – 90 %.  Curah hujan rata-rata  berkisar antara 2.000-2.500 mm/tahun yang termasuk dalam katagori curah hujan rendah.

Kelurahan Demaan
juga dilalui oleh dua sungai yaitu, Sungai Gandu dan Sungai Kanal. Oleh karena itu, kawasan ini merupakan Daerah Aliran Sungai. Sungai Kanal memiliki lebar ± 28 meter, sedangkan Sungai Gandu memiliki lebar ± 15 meter. Kedua sungai tersebut berfungsi sebagai sandaran bagi kapal-kapal nelayan yang hendak berlayar ke Laut Jawa.

Kegiatan ekonomi penduduk di Kelurahan ini cukup beragam yang dapat dibagi menjadi beberapa aktivitas, yaitu :
a)    Perikanan Laut
Sesuai dengan letaknya yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa, kegiatan ekonomi penduduk di Kelurahan Demaan adalah dari kegiatan perikanan laut. Hal tersebut juga terlihat dari banyaknya penduduk yang bermata pencaharian sebagai nelayan, terutama di sekitar Laut Jawa, yaitu di RW 4 dan RW 5. Berbagai hasil laut yang diusahakan oleh masyarakat di tempat ini antara lain ikan laut, udang, kepiting, kerang, cumi-cumi, dan lain-lain. Dengan adanya kegiatan perikanan laut tersebut ternyata memberi dampak terhadap munculnya kegiatan-kegiatan perekonomian baru seperti indutsri pengolahan ikan dan juga perdagangan ikan.
   
b)    Perdagangan dan Jasa
Kegiatan ekonomi lain yang ada di Kelurahan yang pada tahun 2010 berpenduduk5.121 jiwa ini  adalah perdagangan dan jasa, terutama terletak di sepanjang jalan-jalan utama. Kegiatan perdagangan rata-rata berupa perdagangan ritel. Kegiatan perdagangan yang mendominasi antara lain perdagangan hasil ukir, meubel, ikan segar, ikan bakar, dan juga kelontong. Sedangkan kegiatan jasa yang terdapat di Kelurahan Demaan antara lain adalah LBH, jasa menjahit, salon, warung makan, rental mobil, bengkel, dll.
   
c)    Industri
Kegiatan industri pengolahan yang ada cukup beragam, mulai dari industri rumah tangga, industri kecil, sedang hingga besar. Sedangkan jenis kegiatan industri pengolahan yang terdapat di Kelurahan ini antara lain industri pengolahan ikan (pengasapan ikan dan pembuatn kerupuk ikan), meubel, ukir kayu, dan beberapa jenis industri lainnya.

Tuesday, August 10, 2010

Hydro Coco

Tuesday, August 10, 2010 - by Blogger · - 0 Comments

 Hydro Coco
Air Kelapa dalam Kemasan


Hydro Coco
Anda gemar mengkonsumsi air kelapa? Banyak ahli kesehatan yang memberikan rekomendasi terkait dengan manfaat yang bisa kita peroleh apabila rajin mengkonsumsi air kelapa. Dan untuk memanjakan konsumen agar bisa mengonsumsi air kelapa secara praktis, Kalbe meluncurkan produk air kelapa dalam kemasan yang bernama Hydro Coco. Hydro Coco Original  merupakan minuman isotonik alami yang terbuat dari 97% air kelapa asli dengan diperkaya ion alami yang sangat bermanfaat bagi tubuh. 

Manfaat air kelapa asli yang memiliki kandungan karbohidrat dan elektrolit seperti yang ada dalam cairan tubuh manusia menjadikan Hydro Coco memiliki kemampuan untuk menggantikan ion tubuh yang hilang dengan lebih sempurna karena mudah diserap oleh tubuh kita. Selain itu,  dalam sebuah Hydro Coco juga mengandung Vitamin C, Vitamin B3, Vitamin B5, Vitamin B6  dan asam amino yang dapat menjadi sumber energi yang bisa mempercepat pemulihan otot setelah melakukan aktivitas seperti berolahraga. 

Dengan menggunakan Kemasana yang berbentuk tetrapack dan terjamin kehigienisannya, menjadikan minuman ini gampang di bawa kemana-mana dan aman untuk tubuh kita. So, tunggu apa lagi? Marilah secara rutin mengkonsumsi produk ini demi kesehatan kita. 

Komposisi Hydro Coco :
Hydro Coco mengandung komposisi dari air kelapa (97%), gula tebu, perisa identik alami kelapa, penstabil Gom Xanthan dan pengatur keasaman sitrat

Informasi Nilai Gizi Hydro Coco
Dengan takaran saji 250 ml, Hydro Coco mengandung energi total 60 kkal
Lemak total/ total fat          :   0 g (0 %)
     Kolesterol/ Cholesterol :   0 mg
Protein                                :   0 g (0 %)
Karbohidrat total                : 16 g (5 %)
       Serat pangan                :   7 g (26%)
       Gula                             : 10 g
Natrium                              : 100 mg (4 %)
Kalium                                : 360 mg (8 %)
Kalsium                              :  2 %
Magnesium                         : 10%


 Katagori:
Minuman  Buah Elektrolit  Kesehatan  Soda  Tradisional  Teh
Makanan Buah  jajanan Kesehatan Kue Mie Tradisional

Tuesday, July 13, 2010

Kecamatan Demak

Tuesday, July 13, 2010 - by Blogger · - 0 Comments

Kecamatan Demak


Kecamatan Demak
Kecamatan Demak merupakan salah satu kecamatan yang ada dalam wilayah administrasi Kabupaten Demak yang memiliki luas wilayah 61, 56 M2 dan terbagi dalam 13 desa serta 6 kelurahan.  Adapun batas-batas administrasi kecamatan yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Demak ini adalah sebagai berikut:
Sebelah Utara : Kecamatan Bonang, kecamatan Wedung dan Kecamatan Mijen
Sebelah timur: Kecamatan Gajah dan Kecamatan Karanganyar
Sebelah Selatan : Kecamatan Wonosalam
Sebelah Barat : Kecamatan Karangtengah

Desa dan kelurahan yang masuk dalam wilayah administrasi kecamatan ini antara lain: Desa Kalikondang, Donorojo, Katonsari, Karangmlati, Bolo, Bango, Cabean, Tempuran, Turirejo, Raji, Kedondong, Sedo, Mulyorejo,  Kelurahan Mangunjiwan, Kalicilik, Singorejo, Betokan, Bintoro dan Kadilangu. Desa Turirejo merupakan desa dengan luas wilayah terbanyak yaitu 6,28 Km2, disusul dengan Kelurahan Bintoro dan Kelurahan Mangunjiwan. Jaringan jalan utama yang ada berperan sebagai penghubung antara Jawa Tengah dan Jawa Timur dan mempunyai hirarki jalan nasional. Selain itu di Kecamatan  Demak juga terdapat jalan propinsi dan jalan local. Jalan - jalan kecil lainnya tersedia untuk memudahkan aksesibilitas menuju kawasan permukiman. Jaringan jalan nasional berperan sebagai penghubung antara Kecamatan Demak menuju Kota Semarang maupun Kabupaten Kudus. Untuk mendukung kelacaran sirkulasi kendaraan maka di sebagian jalan di Kota Demak dilengkapi dengan jalur lambat yang disediakan bagi kendaraan tertentu seperti sepeda, sepeda motor dan becak.
Kecamatan Demak pada masa lalu merupakan pusat peradaban dan penyebaran agama Islam di Indonesia yang ditandai dengan keberadaan Masjid Agung Demak serta Makam Kanjeng Sunan Kalijogo di Kelurahan Kadilangu. Posisi Istana Kerajaan Demak sendiri sampai saat ini masih menjadi perdebatan para ahli sejarah karena minimnya peninggalan yang ada.

Kecamatan yang berada di jalur Pantura Pulau Jawa ini mempunyai ketinggian antara 0-3 m, sehingga masuk ke dalam kategori topografi datar. Dengan kondisi topografi seperti kawasan tersebut berpotensi terkena bencana alam terutama banjir terlebih ketika musim hujan. Dengan kondisi topografi yang datar menyebabkan arus air yang cenderung lambat dan menyebabkan limpasan ke daerah sekitarnya sehingga jika terjadi banjir akan merusak kawasan perumahan maupun kawasan persawahan.

Dilihat dari aspek klimatologinya, Kecamatan Demak mempunyai iklim tropis. Pada umumnya musim kemarau jatuh pada bulan april sampai september, sedangkan musim penghujan jatuh pada bulan oktober sampai dengan maret. Diantara kedua musim ini terdapat musim peralihan sekitar bulan april-mei dan oktober-november. Biasanya pada musim peralihan tersebut sering terjadi angin kencang yang bertiup dari tenggara ke arah barat laut dan bersifat kering. Sedangkan curah hujan yaitu 0 - 13,6 mm/hari. Jenis tanah di Jenis tanah yang ada di kawasan tersebut berupa gromosol kelabu tua.

Berdasarkan data BPS tahun 2016, kawasan kecamatan ini didominasi oleh lahan sawah seluas 39,33 Km2 yang terbagi dalam sawah pengairan teknis, pengairan ½ teknis, penngairan sederhana serta tadah hujan dan lahan kering seluas 22, 23 Km2 yang terbagi untuk tegalan/ kebun, embung, pengakaran/ bangunan dan penggunaan lainnya.

Monday, June 14, 2010

Jalan Sehat dalam Rangka Sosialisasi PLPBK Desa Banyuputih

Monday, June 14, 2010 - by Blogger · - 0 Comments

Jalan Sehat dalam Rangka Sosialisasi PLPBK Desa Banyuputih

Dalam rangka sosialisasi masal Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLPBK) PNPM Mandiri Perkotaan di Desa Banyuputih Kecamatan  Kalinyamatan Kabupaten Jepara dilaksanakan kegiatan jalan sehat. Jakan sehat yang diprakarsai oleh Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Adil Makmur dan Pemerintah Desa Banyuputih dilaksanakan pada hari minggu 13 Juni 2010.

Kegiatan jalan sehat dalam rangka sosialisasi masal PLPBK PNPM Mandiri Perkotaan dengan mengambil start dan finis di lapangan Desa Banyuputih dengan diikuti oleh ratusan peserta baik itu dewasa maupun anak-anak. Melalui event jalan sehat tersebut diharapkan seluruh masyarakat Banyuputih tahu bahwa desanya akan melaksanakan kegiatan Penataan Lingkungan Berbasis Komunitas, setelah tahu mereka juga harus mau berpartisipasi dalam setiap rangkaian pelaksanaan kegiatan tersebut. 

Di dalam kegiatan jalan sehat yang juga melibatkan karang taruna dan semua unsur masyarakat tersebut dibagikan juga beraneka ragam hadiah yang diundi untukj diberikan kepada peserta yang beruntung. Hadiah yang berasal dari para sponsor tersebut selain bertujuan untuk menarik minat peserta juga sebagai bentuk kepedulian dari BKM Adil Makmur dan Pemerintah Desa Banyuputih Kenyamatan Kalinyamatan Kabupaten Jepara terhadap seluruh masyarakat khususnya yang mau meluangkan waktu untuk mengikuti kegiatan ini. 


Sunday, June 13, 2010

Kabupaten Demak

Sunday, June 13, 2010 - by Blogger · - 0 Comments

KABUPATEN DEMAK


Peta Demak
Kabupaten Demak merupakan salah satu kota yang cukup terkenal karena memiliki kaitan sejarah yang kuat denga perkembangan Agama Islam di Indonesia serta posisinya yang cukup strategis karena berada di jalur pantura yang menjadi jalan penghubung utama di Pulau Jawa. Wilayah kabupaten yang terletak di sebelah timur Kota Semarang ini terbagi dalam 14 kecamatan yang terdiri dari 243 desa dan 6 kelurahan, 512 dusun, 6.326 Rukun Tetangga (RT) dan 1.262 Rukun Warga (RW). Adapun Batas-batas administrasinya adalah sebagai berikut:

Sebelah Utara    : Kabupaten Jepara
Sebelah Barat    : Laut Jawa, Kota Semarang
Sebelah Selatan : Kabupaten Grobogan
Sebelah Timur   : Kabupaten Kudus

Topografi Kabupaten Demak
Secara topografis, wilayah kabupaten ini terdiri atas dataran rendah, pantai serta perbukitan, dengan ketinggian permukaan antara 0-100 meter. Berdasarkan letak ketinggian dari permukaan air laut, wilayah Kabupaten Demak dibatasi atas 3 region meliputi:
  1. Region A : 0-3 meter, meliputi sebagian besar Kecamatan Bonang, Demak, Karang tengah, Mijen, Sayung dan Wedung.
  2. Region B : 3-10 meter, meliputi sebagian besar di tiap-tiap kecamatan yang ada di Kabupaten Demak; 10-25 meter, meliputi sebagian besar Kecamatan Dempet, Karangawen dan Mranggen; 25-100 meter, meliputi sebagian besar Kec. Karangawen dan Mranggen
  3. Region C : lebih dari 100 meter, meliputi sebagian kecil Kecamatan Karangawen dan Mranggen

Kemiringan Lahannya sebagian besar relatif datar, yaitu berada pada lahan dengan kemiringan 0 – 8 %. Sedangkan pada bagian selatan memiliki kemiringan lahan yang sangat bervariasi terutama di wilayah Desa Banyumeneng dan Sumberejo. Kedua desa ini memiliki lahan dengan kemiringan 0 – 2 %, 2 – 8 %, 8 – 15 %, 15 – 40 %, dan lebih besar dari 40 %.

Jenis Tanah Kabupaten Demak
Ada beberapa jenis tanah yang ada di wilayah kabupaten ini, yaitu:
  • Alluvial hidromorf, terdapat di sepanjang pantai
  • Regosol, terdapat di sebagian besar Kecamatan Karangawen dan Mranggen
  • Gromosol kelabu tua, terdapat di Kecamatan Bonang, Wedung, Kebonagung, Mijen, Karanganyar, Gajah, Demak, Wonosalam, Dempet dan Sayung.
  • Mediteran, terdapat di sebagian besar Kecamatan Karangawen dan Mranggen.

Sebagian besar kondisi tanah yang ada di Kabupaten Demak pada musim kemarau menjadi keras dan retak-retak, sehingga tidak dapat digarap secara intensif untuk pertanian. Pada musim penghujan tanahnya bersifat lekat sekali dan volumenya membesar, serta lembab sehingga agak sulit untuk digarap dan memerlukan sistem drainase yang memadai. Pada beberapa daerah tertentu kondisi air tanah yang asin dapat mempengaruhi usaha-usaha petani. Gejala-gejala yang disebabkan oleh air tanah yang asin terutama nampak pada dekat pantai dan sungai/saluran pembuangan yang pada musim kemarau dimasuki air laut.

Struktur Geologi Kabupaten Demak
Struktur Geologi kabupaten ini terdiri dari struktur Aluvium, miosen fasies sedimen, pliosen fasies sedimen, plistosen fasies gunung api dan pliosen fasies batu gamping.
  1. Struktur Aluvium terdapat hampir semua kecamatan yaitu di Kecamatan mijen, Bonang, Kecamatan Demak, Gajah, Karanganyar, Wonosalam, Karangtengah, Dempet, Sayug, Guntur, Mranggen dan Karangawen.
  2. Miosen, fasies sedimen terdapat di sebagian kecamatan karangawen yaitu di desa jragug dan sebagian di kecamatan mranggen.
  3. Pliosen, fasies sedimen terdapat di sebagian kecamatan karangawen yaitu di desa jragug dan sebagian di kecamatan mranggen.
  4. Plistosen, fasies gunung api terdapat di sebagian kecamatan karangawen yaitu desa margohayu dan wonosekar dan terdapat di kecamatan mranggen khususnya di Desa Sumberejo.
  5. Pliosen, fasies batu gamping yaitu hanya terdapat di kecamatan mranggen.
  6. Hidrologi/ Hidrogeologi (Keairan)

Sumber-sumber air di wilayah ini berupa sumber air di permukaan tanah dan air tanah. Sumber air di permukaan tanah berasal dari sungai-sungai, laut dan pantai. Sungai-sungai utama yang terdapat di wilayah Demak adalah sebagai berikut:
  1. Sungai Jragung, Kali Jragung berhulu di G. Ungaran dan mengalir menuju timur laut bermuara di Laut Jawa. Anak sungai Jragung yang berada di wilayah Kabupaten Semarang adalah Kali Klampok, K. Sililin, dan K. Trima.
  2. Sungai Tuntang, Hulu sungai ini berasal dari G.Ungaran di sebelah barat dan G.Merbabu di sebelah selatan menuju timur laut. Salah satu anak sungai Tuntang adalah Kali Senjoyo yang merupakan sungai terpanjang di Kabupaten Semarang (+35 km), dengan anak sungainya yaitu K. Tlogo, K. Taman, dan K. Macanan. Anak Sungai Tuntang yang lain adalah K. Kurmo, K. Bade, K. Ngromo/Bancak. Sungai ini dimanfaatkan oleh penduduk sebagai saluran pengairan terutama di daerah hilir di Kabupaten Demak, dan sebagai pembangkit tenaga listrik.
  3. Sungai Serang, Kali Serang merupakan sungai utama yang berhulu di sekitar G. Merbabu dengan beberapa anak sungai yang terletak di wilayah Kabupaten. Semarang, yaitu K. Gading, K. Regunung, K. Ngadirejo, K. Pepe. K. Klatak, dan K. Bandung.

Selain itu di kawasan tersebut juga memiliki potensi cekungan air tanah yang cukup tinggi yakni air tanah dangkal sebesar 166,2 juta m3/th dan air tanah dalam sebesar 4,1 juta m3/th.

Thursday, April 22, 2010

Kabupaten Jepara

Thursday, April 22, 2010 - by Blogger · - 0 Comments

Kabupaten Jepara


Kabupaten Jepara
Kabupaten Jepara termasuk dalam wilayah administratif  Provinsi Jawa Tengah. Posisi kabupaten  yang  berada di pesisir Laut Jawa ini  berdekatan dengan Kota Semarang sebagai Ibukota Provinsi Jawa Tengah. Posisi tersebut sedikit banyak memberikan pengaruh bagi perkembangan wilayah. Secara geografis, Kabupaten ini terletak pada posisi 3 23’20” BT - 4 9’35” BT dan diantara 5  43’30” LS - 6  47’44” LS.
 
Adapun batas-batas wilayah administratif  Kabupaten Jepara adalah sebagai berikut:
•    Sebelah Barat       :    Laut Jawa
•    Sebelah Timur      :    Kabupaten Kudus dan Kabupaten Pati
•    Sebelah Utara       :    Laut Jawa
•    Sebelah Selatan    :    Kabupaten Demak
Secara administratif  kabupaten ini terdiri dari 16 kecamatan yang terbagi dalam 194 desa/ kelurahan. Adapun kecamatan-kecamatan yang masuk dalam lingkup administrasi Kabupaten Jepara antara lain: Kecamatan Kedung, Pecangaan, Kalinyamatan, Welahan, Mayong, Nalumsari, Batealit, Tahunan, Jepara, Mlonggo, Bangsri, Kembang, Keling, Karimunjawa, Pakisaji, Donorojo.  
Kondisi Fisik Alam Kabupaten Jepara
Wilayah Kabupaten Jepara memiliki relief yang beraneka ragam, terdiri dari daerah dataran pantai yang tersebar disepanjang pantai utara meliputi Kecamatan Kedung, Jepara, Mlonggo, Bangsri, dan Keling, dataran rendah dan dataran sekitar Gunung Muria dan Gunung Clering. Kondisi topografi wilayah antara 0–1.301 meter diatas permukaan air laut,  bagian terendah berada di pantai/pesisir dan bagian tertinggi terdapat di wilayah Kecamatan Keling atau pada kaki Gunung Muria. Berdasarkan kemiringan tanahnya, secara umum dibedakan dalam 4 (empat) kategori,yaitu :

  1. Daerah dengan kemiringan 0-2% lahan datar meliputi sebagian Kecamatan Mayong, sebagian Kecamatan Nalumsari, sebagian Kecamatan Welahan, sebagian Kecamatan Pecangaan, sebagian Kecamatan Kedung, sebagian Kecamatan Jepara, sebagian Kecamatan Tahunan, sebagian Kecamatan Mlonggo, sebagian Kecamatan Bangsri, sebagian Kecamatan Kembang, sebagian Kecamatan Keling, Kecamatan Karimunjawa dan sebagian wilayah Batealit.
  2. Daerah dengan kemiringan 2-15 % lahan landai meliputi sebagian Kecamatan Mayong, sebagian Kecamatan Nalumsari, sebagian Kecamatan Batealit, sebagian Kecamatan Jepara, sebagian Kecamatan Tahunan, sebagian Kecamatan Mlonggo, sebagian Kecamatan Bangsri, sebagian Kecamatan keling, sebagian kecil wilayah utara Pecangaan dan Kedung. 
  3. Daerah dengan kemiringan 15-40 % lahan agak curam meliputi sebagian Kecamatan Mayong, Kecamatan Nalumsari, Kecamatan Batealit, sebagian kecil Kecamatan Mlonggo, sebagian Kecamatan Bangsri dan sebagian Kecamatan Keling. Merupakan daerah di sekitar gunung Muria, Trawean, Genuk, dan Pucang Pendawa.
  4. Daerah dengan kemiringan > 40 % lahan sangat curam meliputi wilayah puncak gunung Muria, Trawean, Genuk, dan Pucang Pendawa. Terletak di Kecamatan Mayong, Batealit, Mlonggo, Bangsri dan Keling

Kondisi Hidrologi Kabupaten Jepara
Kabupaten ini termasuk dalam wilayah Sub DAS Jratun Seluna (Jragung, Tuntang, Serang, Lusi, dan Juana). Aliran sungai ini titik beratnya diarahkan pada pemanfaatan secara optimal sekaligus rehabilitasi terhadap sumber alam hutan, tanah dan air yang rusak serta untuk meningkatkan pembangunan pertanian yang dapat memberikan pengaruh pada sektor lain. Sungai-sungai besar yang dijumpai di Kabupaten Jepara diantaranya Sungai Bakalan, Kaweden, Pecangaan, Troso, Sirahan, Mlonggo, Kancilan, Balong, Gelis, Pasokan, Tunggul, Mayong, Sengon, Kedung Bule, Tuk Abul, Bapangan, Kembar Rawi, Banjaran, Jeruk, Wangkong, Blitar, Wareng dan Suru. Selain sungai, juga terdapat 30 sumber mata air yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih. 

Potensi air permukaan tanah dan air dalam tanah di daerah Kabupaten Jepara cukup besar. Air Permukaan umumnya berupa sungai. Air dalam tanah dapat dibagi 3 daerah menurut keadaan airnya, yaitu :
  • Daerah air tawar, meliputi daerah kaki Gunung  Muria, mempunyai mutu air yang baik dan digunakan sebagai sumber air minum.
  • Daerah air tanah payau, meliputi daerah dataran rendah yang merupakan batas antara air tanah asin dengan air tanah tawar. Persebaran akuifernya tidak merata pada tiap tempat dengan ketebalan antara 2-7 m. Air ini relatif masih bisa digunakan.
  • Daerah air asin, meliputi daerah dataran di pinggiran pantai atau pantai yang menjorok ke daratan.

Perkiraan potensi air tanah di wilayah pesisir  sebesar 36.855.000.000 m³. Pemanfaatan hingga saat ini dilakukan oleh penduduk setempat sebagai sumber air bersih dan belum ada keluhan kekurangan.
Jenis Tanah Kabupaten Jepara
Jenis tanah yang ada di kabupaten ini dibedakan atas 5 jenis tanah. Secara rinci penyebaran jenis tanah dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Tanah Latosol
Jenis tanah ini paling dominan dengan luas tanah  65.659,972 Ha, atau 65,39%. Di Kabupaten ini terdapat dua jenis tanah latosol, yaitu latosol merah dan latosol coklat. Latosol merah terdapat di Kecamatan Pecangaan, Kalinyamatan, Mayong, Nalumsari, Batealit, Jepara, Tahunan, Mlonggo, Bangsri, Kembang, dan Keling.  Sedangkan tanah latosol coklat terdapat di Kecamatan Batealit, Bangsri, Kembang, dan Keling.
2. Tanah Asosiasi Mediteran.
Jenis tanah ini terdapat di Kecamatan Kedung, Pecangaan, Kalinyamatan, Mayong, Nalumsari, Jepara, Tahunan, Mlonggo, dan Bangsri dengan luas tanah 19.400,458 Ha, atau 19,32 %.
3. Tanah Alluvial.
Jenis tanah ini memiliki luas 9.126,433 Ha, atau 9,09%. Terdapat dua jenis tanah ini yaitu alluvial hidromorf dan alluvial kelabu -cokelat- kekelabuan. Alluvial hidromorf terdapat di Kecamatan Mlonggo, Bangsri, dan Kembang. Sedangkan alluvial kelabu keabuan terdapat di Kecamatan Kedung, Pecangaan, Kalinyamatan, Welahan, Mayong, Nalumsari, Jepara, danTahunan.
4. Tanah Andosol Coklat.
Terdapat di Kecamatan Kembang dan Keling dengan luas tanah 525.469 Ha, atau 3,15%.
5. Tanah Regosol Coklat.
Tanah ini terdapat di Kecamatan Keling dengan luas tanah 2.700,857 Ha, atau 2,69 %.

Potensi Pariwisata Kabupaten Jepara
Di Jepara, terdapat beberapa potensi wisata baik itu wisata alam maupun buatan. Adapun potensi wisata tersebut antara lain: Pantai Kartini, Pantai Bandengan, Pantai Pailus, Pantai Mpu Rancak, Pantai Bondo, Pulau Panjang, Museum Kartini, Benteng Portugis, Desa wisata Plajan yang meliputi Museum Gong Perdamaian Dunia, Goa Sakti dan Akar Seribu serta obyek wisata religi seperti Makam Ratu Kalinyamat.

Monday, April 12, 2010

Launching PLPBK Se-Jawa Tengah di Desa Plajan Jepara

Monday, April 12, 2010 - by Blogger · - 0 Comments

Launching PLPBK Se-Jawa Tengah di Desa Plajan Jepara


Program Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLPBK) merupakan salah satu tahapan intervensi dari Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM) Perkotaan yang bertujuan untuk mewujudkan lingkungan hunian yang tertata, rapi, teratur bersih dan indah. Pada Tahun 2010 di seluruh Indonesia terdapat 168 Desa/Kelurahan yang melaksanakan PLPBK, dan dari 255 desa/kelurahan tersebut, 157 diantaranya berada di Propinsi Jawa Tengah yang tersebar di 18 kabupaten/kota. 

Berkaitan dengan pelaksanaan PLPBK tersebut, pada hari ini Minggu (11/4/2010) dilaksanakan launching pelaksanaan PLPBK Se-Jawa Tengah yang dilakukan oleh Gubernur Bibit Waluyo. Dalam kegiatan launching PLPBK yang dipusatkan di Desa Plajan tersebut, selain dihadiri oleh Gubernur Jawa tengah, Bupati Jepara dan Muspida/Forkominda Kabupaten Jepara juga dihadiri oleh pejabat dari Kementrian Pekerjaan Umum, serta 18 Bupati/Walikota yang akan melaksanakan kegiatan PLPBK.  Untuk melaksanakan kegiatan PLPBK tersebut, setiap desa/kelurahan akan mendapatkan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) sebesar Rp 1 Milyar yang berasal dari APBN. 

Di dalam kegiatan Launching PLPBK tersebut, Gubernur Bibit Waluyo dalam sambutan tanpa teksnya menyampaikan bahwa Program yang dicanangkan oleh Kementrian Pekerjaan Umum  ini sejalan dengan program Bali Ndesa Mbangun Ndesa yang Beliau  canangkan selama ini khususnya untuk pembangunan di Jawa Tengah.  

Dalam kegiatan Launching tersebut ditampilkan juga beragam hasil kegiatan masyarakat yang difasilitasi PNPM Mandiri Perkotaan Kabupaten Jepara berupa foto pelaksanaan kegiatan infrastruktur, hasil kerajinan tangan serta makanan/minuman yang dihasilkan oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). 

Sunday, January 24, 2010

Kota Banjarbaru

Sunday, January 24, 2010 - by Blogger · - 0 Comments

Kota Banjarbaru
 

Kota Banjarbaru
yang merupakan salah satu Kota yang berada dalam lingkup administrasi Provinsi Kalimantan Selatan. Kota yang menjadi satelit dari Kota Banjarmasin ini memiliki batas-batas administratif sebagai berikut:
  • Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Martapura Kabupaten Banjar;
    Kota Banjarbaru
  • Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar;
  • Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Gambut dan Kecamatan Aluh-Aluh Kabupaten Banjar;
  • sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Bati-Bati Kabupaten Tanah Laut.
Kota Banjarbaru memiliki luas wilayah 371,38 km2 yang terdiri 5 (lima) Kecamatan dan 20 (dua puluh) Kelurahan.  Kecamatan dengan luas terbesar adalah kecamatan Cempaka sedangkan luasan wilayah yang terkecil yaitu Kecamatan Banjarbaru Selatan.

Sejarah Perkembangan Kota Banjarbaru
Pada awal perkembangannya, Banjarbaru ditetapkan sebagai Kota Administratif dengan tiga wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Landasan Ulin, Banjarbaru dan Kecamatan Cempaka (berdasarkan UU No. 5/1974 Pasal 27 ayat (4) dan PP No. 26/1975 yang diperkuat dengan Permendagri No. 12/1975 tentang Pokok Pemerintahan Wilayah Kota Administratif Banjarbaru dan Permendagri No.24/1975 tentang Pelaksanaan PP No. 26/1975 tanggal 29 Oktober 1975. Selanjutnya setelah menjadi daerah otonom, Kota Banjarbaru mengalami 2 (dua) kali pemekaran wilayah, terakhir dengan Perda Kota Banjarbaru No. 4 Tahun 2007 tentang Pemecahan dan Pembentukan 2 (dua) Kecamatan Baru di Kota Banjarbaru. Pemekaran kecamatan terjadi pada Kecamatan Landasan Ulin menjadi Kecamatan Landasan Ulin dan Kecamatan Liang Anggang, serta Kecamatan Banjarbaru dipecah menjadi Kecamatan Banjarbaru Utara dan Kecamatan Banjarbaru Selatan 

Dengan demikian, secara administratif saat ini Kota Banjarbaru terdiri dari 5 Kecamatan dengan 20 kelurahan, yaitu Kecamatan Banjarbaru Utara, Kecamatan Banjarbaru Selatan, Kecamatan Landasan Ulin, Kecamatan Liang Anggang dan Kecamatan Cempaka. Kelima kecamatan tersebut selain berfungsi sebagai pusat pemerintahan juga merupakan pusat-pusat pertumbuhan di Kota Banjarbaru. Kecamatan yang memiliki perkembangan paling pesat adalah Kecamatan Banjarbaru (Banjarbaru Utara dan Banjarbaru Selatan) sebagai pusat pemerintahan provinsi, pelayanan pendidikan tinggi, pelayanan umum dan sosial, transportasi regional, perdagangan dan jasa, serta kawasan khusus militer; Kecamatan Landasan Ulin (Landasan Ulin dan Liang Anggang) sebagai pusat pelayanan transportasi regional, pusat pengembangan industri, pengembangan permukiman dan kawasan rekreasi; serta Kecamatan Cempaka sebagai pusat pertambangan intan tradisional, pengembangan permukiman, lahan cadangan dan konservasi.

Kedudukan Kota Banjarbaru dalam konstelasi regional
Dalam kontelasi hubungan antar-wilayah, Kota Banjarbaru memiliki kedudukan yang penting dan strategis, khususnya dalam sistem transportasi darat dan udara. Kota tersebut memiliki akses Jalan Simpang Tiga Liang Anggang yang menghubungkan Banjarmasin – Kotabaru dan Banjarmasin – Hulu Sungai hingga ke Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Selain itu, Banjarbaru memiliki akses pelabuhan laut Trisakti sebagai gerbang jalur transportasi laut melalui Jalan Lingkar Selatan Liang Anggang dan akses Bandar Udara Syamsuddin Noor sebagai jalur transportasi udara di Kalimantan Selatan. Kondisi yang demikian menjadikan Kota ini berfungsi  sebagai Kota Pendidikan, Industri, Jasa dan Perdagangan, serta Pemerintahan dan Permukiman.

Kondisi Topografi Kota Banjarbaru
Secara topografi, Kota yang saat ini berkembang cukup pesat tersebut memiliki topografi bervariasi antara 0 – 500 m dari permukaan air laut (dpl), dengan bentuk bentang alam (morfologi) yang cukup variatif (beragam). Sebagian besar wilayah kota berada di ketinggian 7 – 25 m dpl yaitu sekitar 10.615 Ha atau 33,23% dari luas wilayah keseluruhan.
Dari segi kemiringan tanah kondisi kota Banjarbaru dapat dilihat sebagai berikut
  1. Sebagian besar wilayah Kota memiliki kelerengan 0 – 2% (± 59,35%). Kondisi ini sangat cocok untuk budidaya pertanian maupun untuk kegiatan perkotaan;
  2. Kelerengan antara 2–8% (± 25,78%) berada di sebagian wilayah Cempaka, Banjarbaru Utara dan Selatan. Di kelas lereng ini, kegiatan budidaya masih dapat dilaksanakan, tetapi harus menggunakan teknologi yang tepat sebagai bentuk antisipasi erosi tanah;
  3. Kelerengan antara 8–15% (± 12,08%) berada di sebagian wilayah Cempaka. Kelas lereng ini masing memungkinkan untuk budidaya perkebunan atau kehutanan dengan jenis tanaman yang berakar dalam.
Peta Banjarbaru
Jenis Tanah Kota Banjarbaru
Secara umum, jenis tanah di Banjarbaru terdiri dari tanah podsolik (63,82%), organosol (29,82%) dan lathosol (6,36%). Jenis tanah Podsolik Merah Kuning (Ultisols) tersebar sebagian besar di Kecamatan Cempaka dan Banjarbaru; sedangkan Aluvial (Entisols dan Inceptisols), Gambut (Histosols) dan Spodosols tersebar di Kecamatan Landasan Ulin. Jenis tanah podsolik mempunyai ciri tanah dengan tingkat kesuburan yang rendah dan peka terhadap erosi. Walaupun demikian, di Kota Banjarbaru tetap dapat dikembangkan budidaya pertanian (padi, palawija, sayuran, perkebunan), tetapi disertai dengan teknologi pengolahan yang tepat. Sedangkan jenis tanah organosol mempunyai ciri tanah dengan tingkat kesuburan yang baik, sehingga potensial untuk pengembangan budidaya tanaman pangan (khususnya padi sawah dan holtikultura).

Dilihat dari segi tekstur tanah, wilayah Banjarbaru memiliki 3 (tiga) tekstur tanah, yaitu halus, sedang dan kasar. Sebagian besar wilayah bagian tengah (seluas 88% dari luas keseluruhan) memiliki tekstur tanah cenderung halus dengan kedalaman efektif tanah lebih dari 90 cm, sedangkan tekstur tanah kasar hanya sebagian kecil di bagian selatan (4% dari luas keseluruhan). Kondisi ini mengindikasikan adanya potensi pengembangan tanaman budidaya, karena tanah dengan tekstur halus dengan kedalaman efektif tanah lebih dari 90 cm memiliki kecenderungan baik untuk ditanami dan tahan terhadap erosi.

Hidrologi Kota Banjarbaru
Secara hidrologi, Kota Banjarbaru terdiri dari air permukaan dan air tanah. Kondisi air permukaan di Banjarbaru ditunjang oleh adanya 2 (dua) buah DAS (Daerah Aliran Sungai) sebagai catchment area, yaitu DAS Barito/Riam Kanan dan DAS Taboneo. Daerah Aliran Sungai tersebut merupakan asset kawasan yang berpotensi besar bagi aspek-aspek kehidupan masyarakat, yakni sebagai bahan baku untuk minum, perikanan dan pariwisata. Namun, Di sepanjang hamparan aliran DAS/Sub-DAS telah mengalami degradasi lahan (kategori lahan kritis) disebabkan kegiatan penduduk yang tidak sesuai peruntukan. Sedangkan air tanah di Kota Banjarbaru dapat ditemukan dengan kulitas yang cukup baik.
Kota Banjarbaru dilintaSi beberapa sungai, antara lain: Sungai Besar/Kemuning, Sungai Guntung Jingah, Sungai Komet/Durian, Sungai Gotong Royong, Sungai Gunung Kupang I, Sungai Ulin, Sungai Karet, Sungai Lurus, Sungai Guntung Paikat, Sungai Guntung Lua, Sungai Puyau, Sungai Loktabat/ Guntung Papuyu, Guntung Paring, Sungai Ambulung, Sungai Gunung Kupang II, Sungai Batu Licin, Sungai Pinang, Sungai Ujung Murung, Sungai Batu Kapas, Sungai Mangguruh, Sungai Paring, Sungai Sambangan, Sungai Ampayo, Sungai Tiung, Sungai Apukah, Sungai Basung, Sungai Lukaas, Sungai Banyu Irang, Sungai Cambai, Sungai Mati, Sungai Dadap, Sungai Bangkal Kecil, Sungai Batu Kapur, Sungai Kuranji, Sungai Rancah, Sungai Salak, Sungai Guntung Payung, Sungai Lukudat, Handil Kerokan/Daya Sakti, Sungai Rimba, Sungai Tagumpar, Sungai Sumba, Sungai Sidomulyo, Sungai Lu’uk, Handil Berkat Karya, Handil Papikul, Handil Hanyar, Sungai Jembatan I, Sungai Jembatan II, Sungai Pembuang Provinsi, Saluran Timbang Rasa, Sungai Karya Bakti, dan Sungai Polantan.



Thursday, January 21, 2010

Kabupaten Kendal

Thursday, January 21, 2010 - by Blogger · - 0 Comments

Kabupaten Kendal


Kabupaten Kendal
 Letak Administrasi Kabupaten Kendal
Kabupaten Kendal merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang berbatasan langsung dengan Kota Semarang sebagai Ibukota Provinsi Jawa Tengah. Secara geografis letak Kabupaten ini berada pada posisi 109º 40’ - 110º 18’ Bujur Timur dan 6º 32’ - 7º 24’ Lintang Selatan dan secara administratif  berbatasan dengan:
Sebelah Utara     : Laut Jawa
Sebelah Timur    : Kota Semarang
Sebelah Selatan  : Kabupaten Semarang dan Kabupaten Temanggung
Sebelah Barat     : Kabupaten Batang

Ditinjau dari letaknya di Pulau Jawa wilayah kabupaten yang berada di kawasan pesisir laut Jawa inil berada pada posisi yang strategis karena berada pada Jalur Pantai Utara (Pantura) yang menghubungkan antara Jakarta dan Surabaya. Kabupaten ini terdiri dari 20 kecamatan, 286 desa, 1.139 dukuh, 1.487 RW, 6.375 RT,   dengan luas total wilayah adalah 1.002,23 Km2

Topografi Kabupaten Kendal
Kabupaten  yang berbatasan dengan semarang ini memiliki topografi yang sangat beragam, yaitu topografi datar sampai dengan topografi curam. Kecamatan Rowosari merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Kendal yang mempunyai topografi datar yaitu 0-2%. Kecamatan yang memiliki topografi curam yaitu sebagian Kecamatan Plantungan, Kecamatan Sukorejo, Kecamatan Kaliwungu Selatan, Kecamatan Singorojo, Kecamatan Limbangan.

Curah Hujan Kabupaten kendal
Curah hujan yang ada dimulai dari curah hujan < 1500 mm/th sampai dengan >2500 mm/th. Kecamatan yang memiliki tingkat curah hujan rendah yaitu sebagian Kecamatan Rowosari, Kecamatan Weleri, Kecamatan Ringinarum, dan Kecamatan Kangkung

Jenis dan tekstur Tanah Kabupaten Kendal
Apabila dilihat dari jenis dan tekstur tanahnya  kabupaten ini memiliki variasi jenis tanah yang cukup beragam antara lain sebagai berikut:
  1. Alluvial, jenis tanah ini bersifat hidromorf dan berwarna kelabu, coklat dan hitam. Jenis tanah ini dapat ditemui di wilayah Kecamatan Cepiring, Patebon, Kecamatan Brangsong, sebagian Kecamatan Weleri, Gemuh, Kecamatan Pegandon, Brangsong dan Kaliwungu.
  2. Latosol, tanah ini berwarna netral sampai asam berwarna coklat, coklat kemerahan sampai merah. Jenis tanah ini dapat ditemui di wilayah Kecamatan Limbangan, Singorojo, Pegandon, Gemuh, Weleri, Plantungan, Sukorejo, Boja, Pageruyung, Patean dan sebagian Kecamatan Kaliwungu.
  3. Andosol dan Regosol, jenis tanah ini bersifat netral sampai asam dengan warna putih, coklat kekuning – kuningan, coklat atau kelabu serta hitam. Jenis tanah ini meliputi Kecamatan Plantungan dan Sukorejo.
  4. Mediteran Coklat Kemerahan, tanah ini merupakan jenis tanah peralihan antara alluvial dan latosol, bersifat agak netral dengan warna merah sampai coklat. Jenis tanah ini meliputi Kecamatan Gemuh, Pegandon dan Kecamatan Kaliwungu
Peta Kab Kendal
Kondisi Hidrologi Kabupaten Kendal
Suplai air tanah maupun air tawar seluruhnya datang dari hujan yang berasal dari penguapan air laut, yang merupakan bagian dari proses siklus hidrologi. Hujan yang jatuh akan meresap ke dalam tanah, sebagian menjadi air tanah yang mengisi aquifer (formasi tanah yang mengandung dan menghantarkan air tanah) dan sebagian besar mengalir di permukaan sebagai run off (surface flow dan sub surface flow). Kabupaten Kendal memiliki sekitar 20 mata air dengan debit yang beraneka ragam. Mata air yang ada tersebut pada umumnya terletak di Kecamatan Sukorejo, Plantungan, Singorojo, Limbangan, dan Patehan

Friday, January 15, 2010

Kota Semarang

Friday, January 15, 2010 - by Blogger · - 0 Comments

    Kota Semarang


Kota Semarang
Kota Semarang merupakan salah satu wilayah yang secara administratif termasuk dalam bagian dari Wilayah Propinsi Jawa Tengah. Secara sepintas tampak bahwa, wilayah Kota Semarang terletak di bagian utara Propinsi Jawa Tengah, dan Secara fisik administrasi Kota Semarang mempunyai luas wilayah 37.370,39 Ha, dengan batas-batas sebagai berikut:
•    Sebelah Utara    : Laut Jawa (letak lintang 6o 50’ LS)
•    Sebelah Selatan    : Kabupaten Semarang (letak lintang 7o 10’ LS)
•    Sebelah Barat    : Kabupaten Kendal (letak lintang 109o 50’ BT)
•    Sebelah Timur    : Kabupaten Demak (letak lintang 110o 35’ LS)
 
Kota Semarang terdiri dari 16 kecamatan dan 177 kelurahan. Ke-16 kecamatan tersebut antara lain: Kecamatan banyumanik, Kecamatan Candisari, Kecamatan Gajahmungkur, Kecamatan Gayamsari, Kecamatan genuk, Kecamatan Gunungpati, Kecamatan Mijen, Kecamatan Ngaliyan, Kecamatan Pedurungan, Kecamatan Semarang Barat, Kecamatan Semarang Selatan, Kecamatan Semarang Tengah, Kecamatan Semarang Timur, Kecamatan Semarang Utara, Kecamatan Tembalang dan Kecamatan Tugu

Di dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) kota yang menjadi ibukota provinsi Jawa Tengah ini ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) sementara Kab. Semarang (Ungaran) sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW) dan Kab. Kendal serta Demak sebagai Pusat Kegiatan Lokal. Penetapan ini karena KotaSemarang berpotensi sebagai:
  • Pusat yang mempunyai potensi sebagai pintu gerbang ke kawasan-kawasan internasional dan mempunyai potensi untuk mendorong daerah di sekitarnya.
  • Pusat jasa pemerintahan untuk nasional atau meliputi beberapa propinsi.
  • Pusat jasa-jasa kemasyarakatan yang lain untuk nasional atau meliputi beberapa propinsi.
  • Pusat jasa-jasa pelayanan keuangan/ bank, yang melayani secara nasional atau melayani beberapa propinsi.
  • Pusat pengolahan/pengumpul barang secara nasional atau meliputi beberapa propinsi.
  • Simpul transportasi secara nasional atau untuk beberapa propinsi.
Dalam lingkup regional (Kedungsepur), Kota ini sangat potensial sebagai pusat kolektor dari berbagai produk sumber daya lokal pertanian dari wilayah hinterland (Ungaran, Kendal dan Demak).  Kota Semarang memiliki infrastruktur yang cukup baik yang telah mendukung fungsi Metropolitan Semarang sebagai kota industri dan jasa dan perdagangan, serta fungsi-fungsi perkotaan lainnya baik dalam skala pelayanan lokal, regional maupun nasional. Infrastruktur yang telah terbangun ini akan mendukung peran kota dalam konstelasi regional, khususnya dalam mendorong peranan dari penggerak-penggerak utama ekonomi kota yaitu sektor perdagangan, hotel, restoran, sektor jasa-jasa dan sektor industri pengolahan.

Kondisi Topografi Kota Semarang
Kota Semarang mempunyai ketinggian sekitar 0.75-348 meter diatas permukan laut. Ketinggian 0.75-90.5 termasuk dalam kawasan Pusat Kota  (Dataran Rendah Semarang Bagian Utara) yang di wakili oleh titik tinggi di Daerah Pantai Pelabuhan Tanjung Mas, Simpang Lima, Candibaru. Sedangkan ketinggian 90.5-348 terletak pada daerah pinggir kota, yang terbesar disepanjang arah mata angin yang diwakili oleh titik tinggi yang berlokasi di Jatingaleh dan Gombel, Semarang Selatan, Tugu, Mijen dan Gunungpati. Kondisi Topografi Kota yang berada di pinggir Laut Jawa ini beraneka ragam yang terdirii dari
a.    Dataran pesisir pantai    :   1% dari luas wilayah total
b.    Dataran rendah        : 33% dari luas wilayah total
c.    Dataran tinggi        : 66% dari luas wilayah total

Apabila dilihat dari kelerengannya, kota Semarang dibagi menjadi 4 jenis kelerengan yaitu :
  1. Lereng I (0-2 %) meliputikecamatan Genuk Pedurungan, Gayamsari, Semarang Timur, Semarang Utara dan Tugu serta sebagian wilayah Kecamatan tembalang Banyumanik dan Mijen.
  2. Lereng II (2-15 %) meliputi kecamatan Semarang Barat, Semarang Selatan, candisari, Gajahmungkur, Gunungpati dan ngaliyan.
  3. Lereng III (15-40 %) meliputi wilayah disekitar Kaligarang dan Kali Kreo (kecamatan Gunungpati), sebagian wilayah kecamatan Mijen (daerah Wonoplumbon), sebagian wilayah kecamatan Banyumanik dan kecamatan Candisari.
  4. Lereng IV (> 40 %) meliputi sebagian wilayah Banyumanik (sebelah tenggara), dan sebagian wilayah kecamatan Gunungpati, terutama disekitar kali Garang dan kali Kripik.
.Kondisi Geologoi Kota Semarang
Kondisi geologi diidentifikasi berdasarkan satuan-satuan litologi sebagai berikut :
  • Bagian utara sebagian besar ditutupi oleh endapan permukaan yang merupakan alluvium hasil pembentukan delta Kaligarang. Terdiri dari lapisan pasir, lempung, kerikil.
  • Bagian selatan memiliki lapisan litologi breksi dan lava andesit, termasuk ke dalam endapan vulkanik.
  • Daerah perbukitan (Srondol Wetan, Banyumanik, dan sekitarnya terdiri dari lapisan batuan breksi vulkanik dengan sisipan lava batu pasir tufa dan tanah berwarna merah dengan ketebalan 50-200meter.
Peta Kota Semarang
Pembagian tingkat permeabilitas tanah berdasar jenis litologi ialah sebagai berikut :
  1. Sebagian wilayah kecamatan Semarang Selatan, Semarang Barat, Gunungpati, dan Mijen dan kondisi tidak permabel (Kedap) dengan nilai antara 0,04-87,5 liter/hari.
  2. Sebagian wilayah Tugu, Mijen, Semarang Timur dan Genuk mempunyai tingkat permeabilitas rendah dengan nilai antara 4-2.037 liter/m2/hari.
  3. Sebagian wilayah Genuk, Semarang Tangah, Semarang Utara, Semarang Barat dan Tugu mempunyai tingkat permeabilitas dengan nilai antara 4.037-122.000 liter/m2/hari.
  4. Wilayah Kecamatan Mijen, Gunungpati dan Semarang Selatan mempunyai permeabilitas tinggi dengan nilai antara 8.149-203.735 liter/m2/hari.

Kondisi Hidrologi Kota Semaranng

Sistem akuifer air tanah dangkal diwilayah Kota Semarang merupakan akuifer bebasa karena muka air tanahnya berhubungan langsung dengan air permukaan. Di dataran aluvial muka air tanah berkisar 0.2-4 meter dari muka laut, semakin kearah timur dan utara semakin dalam melebihi 90 meter. Akuifer delta garang, akuifer endapan alluivial serta perbukitan merupakan akuifer utama pemasok air tanah di Wilayah Semarang. Akuifer produktif tinggi dengan aliran melalui ruang dengan sebaran yang luas justru terdapat pada daerah rendah, yaitu Kecamatan Semarang Utara, Kecamatan Semarang Timur, Kecamatan Semarang Tengah, Kecamatan Gayamsari dan Genuk.

Di daerah ini air tanah di eksploitasikan secara lebih untuk keperluan industri maupun rumah tangga Air tanah langka terdapat di daerah Kecamatan Tembalang, Banyumanik dan Gunungpati. Kondisi kedalaman air tanah di kota Semarang ialah sebagai berikut :
  1. Kedalaman Muka air tanah (4 meter meliputi kecamatan Gunungpati (100%) mijen dan Semarang Timur.
  2. Kedalaman muka air tanah (4 meter melipiti kecamatan Semarang Tengah (100%), Semarang Utara dan Semarang Barat.
Di kota Semarang mengalir sungai besar dan beberapa sungai kecil, antara lain sungai banjirkanal, kali bringin dan kali plumbon sungai tersebut merupakan sungai primer.


Friday, January 8, 2010

Kabupaten Barito Timur

Friday, January 8, 2010 - by Blogger · - 0 Comments

Kabupaten Barito Timur


Kabupaten Barito Timur
 Kabupaten Barito Timur yang beribukota di Tamiang Layang terletak antara 1º 2’ Lintang Utara dan 2º 5’ Lintang Selatan, 114º dan 115º Bujur Timur yang diapit oleh kabupaten tetangga yaitu
•    Sebelah Barat berbatasan dengan barito Selatan.
•    Sebelah Timur berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Selatan
•    Sebelah Utara berbatasan dengan barito Selatan.
•    Sebelah Selatan berbatasan dengan barito Selatan.

Kabupaten ini memiliki lokasi strategis karena adanya pola pergerakan orang dan barang, sehingga menjadi Kota Transit, baik dari arah Kota Banjarmasin maupun Kota Palangka Raya. Sedangkan dilihat dari letak wilayah dalam kesatuan Provinsi Kalimantan Tengah, Kabupaten Barito Timur berada di bagian paling timur yang berdekatan dengan Kota Amuntai yang merupakan Ibukota Kabupaten Hulu Sungai Utara Provinsi Kalimantan Selatan. Dengan letak dan posisi demikian sehingga arah perkembangan wilayahnya cenderung menuju ke Kota Amuntai, Provinsi Kalimantan Selatan.

Luas Wilayah Kabupaten ini tercatat seluas 3.834 km² yang meliputi 10 kecamatan dan  terdiri dari 103 desa/kelurahan termasuk Unit Pemukiman Transmigari (UPT). Mengacu pada kriteria PMD-Depdagridimana desa/kelurahan diklasifikasikan menjadi desa/kelurahan swadaya (tradisional), swakarya (transisional) dan Swasembada (berkembang). Dikabupaten Barito Timur desa/kelurahan yang ada masih merupakan desa/kelurahan Swadaya (tradisional).  

10 Kecamatan yang masuk dalam lingkup administrasi kabupaten ini antara lain:  Kecamatan Benua Lima, Kecamatan Dusun Timur, Kecamatan Awang, Kecamatan Patangkep Tutui, Kecamatan Dusun Tengah, Kecamatan Pematang Karau, kecamatan Paju Epat, Kecamatan Raren Batuah, Kecamatan Paku dan Kecamatan Karusen Janang.  Kecamatan Dusun Timur dan Kecamatan Paju Epat  merupakan kecamatan terluas, masing-masing 867,70 km² dan 664,30 km² atau luas kedua kecamatan tersebut mencapai 40,15 % dari seluruh luas wilayah Kabupaten Barito Timur. 
Peta Barito Timur

jarak dari ibukota Kabupaten ke ibukota Kecamatan paling dekat yaitu Kecamatan Dusun Timur Ibukota Kecamatan Tamiang Layang adalah 0,01 km, sedangkan jarak dari ibukota Kabupaten ke ibukota Kecamatan terjauh yaitu Kecamatan Raren Batuah Kecamatan Unsum dengan jarak 63,66km
Sebagian besar wilayah Kabupaten Barito Timur adalah merupakan dataran rendah yang ketinggiannya berkisar antara 50 s/d 100 meter dari permukaan laut, kecuali sebagian Wilayah Kecamatan Awang dan Kecamatan Patangkep Tutui yang merupakan daerah perbukitan.Dengan tidak adanya sungai besar dan banyaknya sungai kecil/anak sungai, keberadaannya menjadi salah satu ciri khas Kabupaten ini.

sebagian besar wilayah Kabupaten Barito Timur beriklim tropis dengan rata-rata mendapat penyinaran matahari lebih dari 50% sepanjang tahun. Udaranya relatif panas yaitu pada siang hari bisa mencapai 34,6ºC dan pada malam hari mencapai 21,0ºC dengan kelembaban   relatif   antara   42   sampai dengan 100 persen, sedangkan rata-rata curah hujan pertahunnya relatif tinggi yaitu mencapai 228,9 mm dengan jumlah hari hujan sebanyak 210 hari. Ketingian wilayah Kabupaten ini  bervariasi yaitu berkisar 20-80 m dpl. Kecamatan Reren Batuah merupakan wilayah yang tertinggi yaitu 80 mdpl dan yang terendah adalah Kecamatan Paku yaitu sekitar 17 mdpl

Saturday, January 2, 2010

Kabupaten Hulu Sungai Utara

Saturday, January 2, 2010 - by Blogger · - 0 Comments

Kabupaten Hulu Sungai Utara



Kabupaten Hulu Sungai Utara
Kabupaten Hulu Sungai Utara merupakan salah satu kabupaten yang berada di Propinsi Kalimantan Selatan dengan luas wilayah seluruhnya 892,7 km persegi atau hanya 2,38 % dari luas propinsi Kalimantan Selatan. Secara umum Kabupaten yang berada di kawasan rawa-rawa ini terletak pada koordinat 2° sampai 3° Lintang Selatan dan 115° sampai 116° Bujur Timur. 

Adapun batas-batas wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara adalah sebagai berikut:
Sebelah Utara        :   Propinsi Kalimantan Tengah dan kabupaten Tabalong
Sebelah Selatan     :   Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Tengah
Sebelah Timur        :   Kabupaten Balangan
Sebelah Barat        :   Kabupaten Barito Selatan Propinsi Kalimantan Tengah.

Dari total luas wilayah yang ada di Kabupaten Hulu Sungai Utara, sebagian besar terdiri atas dataran rendah yang digenangi oleh lahan rawa baik yang tergenang secara monoton maupun yang tergenang secara periodik. Kurang lebih 570 km persegi adalah merupakan lahan rawa dan sebagian besar belum termanfaatkan secara optimal. 

Wilayah Kabupaten yang beribukota di Amuntai ini terbagi dalam 10 kecamatan, yakni Kecamatan Amuntai Tengah dengan luas wilayah 56,99 km2 ; Kecamatan Amuntai Selatan dengan luas wilayah 183,16 km2 ; Kecamatan Amuntai Utara dengan luas wilayah 45,00 km2 ; Kecamatan Danau Panggang dengan luas wilayah 224,49 km2; Kecamatan Babirik dengan luas wilayah 77,44 km2 ; Kecamatan Sungai Pandan dengan luas wilayah 45,00 km2 ; dan Kecamatan Banjang dengan luas wilayah 41,01 km2. Kecamatan Paminggir dengan luas wilayah 156 km2 ; kecamatan Haur Gading dengan luas wilayah 34,15 km2 dan Kecamatan Sungai Tabukan dengan luas wilayah 29,24 km2. Secara keseluruhan, di Kabupaten HSU terdapat 219 desa dan 5 kelurahan yang terbagi atas 3 klasifikasi yakni desa Swadaya sebanyak 5 desa dan desa Swasembada sebanyak 214 desa. Untuk klasifikasi LKMD terbagi 3 yaitu Klasifikasi I ,II. III sejumlah 219 desa.

Kabupaten Hulu Sungai Utara merupakan wilayah yang terdiri dari dataran Sungai Utara dan memiliki potensi untuk berkembang sebagai daerah pertanian karena berada di dataran  rendah dengan ketinggian berkisar antara 0 – 25 meter dari permukaan laut. Dari kisaran ketinggian dari permukaan laut tersebut, luasan yang terbesar yang dirinci pada setiap Kecamatan. Terdapat hanya ada satu kelas kelerengan di Hulu adalah yang berkisar antara 0-7 meter di atas permukaan laut. Terdapat luasan sebesar Sungai Utara, yakni kelas kelerengan antara 0 – 2 % pada seluruh kecamatan yang ada 91.350 hektar luas wilayah yang berada pada ketinggian 0-7 meter dari permukaan laut.
Peta Hulu Sungai Utara

Jenis batuan yang terdapat di Kabupaten ini meliputi kuarter (89.013 Ha), Misozoikum, Neopleosin, Meosin, batuan beku dalam dan Paleogen. Kabupaten Hulu Sungai Utara memiliki beberapa jenis tanah yaitu : Podsolik, Alluvial, Orgonosol, Latosol. Jenis-jenis tanah tersebut memiliki karakter yang berbeda-beda, misalnya jenis tanah alluvial dan Orgonosol Gleihumus merupakan jenis tanah dengan tingkat kesuburan yang tinggi dan juga tidak peka terhadap erosi sehingga sangat potensial untuk pertanian, dan sisanya memiliki tingkat kesuburan yang rendah.

Hasil perekonomian yang menjadi andalan Kabupaten ini antara lain di Itik alabio dan kerbau Rawa yang merupakan hewan khas daerah tersebut, perikanan, perkebunan (sawit) dan pertambangan.

Subscribe

Mau berlanganan ? Silahkan masukkan emailmu di sini

© 2013 Fotopedia. All rights reserved.
Designed by SpicyTricks